Angka Kemiskinan di Jateng Meningkat

|

ilustrasi/theyoungandthedigital.com

SEMARANG (JT-News) – Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jateng pada September 2011 sebesar 5,256 juta orang atau naik 148,6 ribu orang dibanding bulan Maret 2011 yang tercatat 5,107 juta orang.

“Kenaikan jumlah penduduk miskin tersebut karena pasca-Lebaran secara umum harga berbagai komoditas mengalami kenaikan,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik Jateng Erisman di Semarang, Selasa (3/1).

Pada September 2011, lanjut Erisman, terjadi inflasi 0,41 persen dengan indeks harga konsumen sebesar 125,80 poin, sedangkan bulan Maret 2011 terjadi deflasi 0,25 persen dengan indeks harga konsumen sebesar 123,63 poin. Dari jumlah penduduk miskin tersebut, kenaikan terbesar terjadi di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan.

Selama periode Maret 2011 hingga September 2011, penduduk miskin di daerah perdesaan bertambah 65,3 ribu orang, sedangkan di daerah perkotaan bertambah 83,3 ribu orang. “Pada Maret 2011, sebagian besar atau 59,03 persen penduduk miskin berada di daerah perdesaan, sementara bulan September 2011 persentasenya turun menjadi 58,60 persen,” katanya.

Besar kecilnya jumlah penduduk miskin tersebut, tambah Erisman sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan yakni mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Selama Maret sampai September 2011, garis kemiskinan Jateng naik 3,74 persen yakni dari Rp209.611 per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp217.440 per kapita per bulan pada September 2011.

Untuk komponen garis kemiskinan tersebut yang terdiri dari garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan bukan makanan. Di Jateng, peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. “Dari Rp217.440 per kapita perbulan, pengeluaran untuk membiayai makanan sebesar 73,02 persen dan 26,98 persen pengeluaran untuk membiayai bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan,” katanya.

Sementara bulan Maret 2011, sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 72,98 persen, tetapi bulan September 2011, peranannya hanya naik sedikit menjadi 73,02 persen. Garis kemiskinan di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan yakni di daerah perkotaan sebesar Rp231.046 per kapita per bulan sedangkan di daerah perdesaan sebesar Rp205.981 per kapita per bulan. (ant/JT-1)

Dalam Jawa Tengah | Tags ,, ,

Berita terkait

Tinggalkan Pesan

Komentar Terakhir

CLOSE