Prasasti Berhuruf Palawa Ditemukan di Pemalang

|

ilustrasi

PEMALANG (JT-News) – Seorang warga menemukan Prasasti batu bertuliskan huruf Palawa dan cap kaki kiri yang diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun, di Gunung Gersuk kawasan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Silarang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Staf Bidang Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Anggono, di Pemalang, Senin mengatakan, batu yang ditemukan warga di kawasan KPH Silarang diduga merupakan prasasti batu tulis berusia lebih dari 100 tahun, namun huruf Palawa yang terpahat di batu tua tersebut belum dapat dibaca.

“Petugas dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemalang sudah mengecek kondisi prasasti tersebut, namun karena huruf Palawa yang yang tertulis di batu itu tidak bisa dibaca dan diterjemahkan maka belum dapat diketahui asal usul serta usia pasti batu tulis tersebut,” katanya.

Selain terdapat huruf Palawa, kata dia, prasasti batu berbentuk agak oval dan pipih dengan ukuran berkisar 50×30 sentimeter tersebut juga terdapat cap kaki kiri manusia dan pada bagian tengahnya ada lubang tembus berdiameter kurang dari dua sentimeter. “Berdasarkan pengamatan sementara prasasti tersebut diduga telah berusia sekitar seratus tahun lebih, namun untuk detailnya diperlukan pengamatan dan penelitian lebih lanjut,” katanya.

Sementara itu, penemu prasasti batu bergambar telapak kaki tersebut, Mamang (40), warga Desa Mengori, Kecamatan Pemalang mengaku tidak sengaja menemukan batu bersejarah itu, bahkan semula mengira batu tersebut hanya batu gunung biasa.  Ia menjelaskan, saat pertama kali melihat batu kuno tersebut dalam posisi sebagian permukaan batu tertutup tanah di dekat semak-semak, setelah diambil dan dibersihkan ternyata ada gambar menyerupai kaki kiri manusia dan tulisan huruf Palawa, sehingga langsung diambil dan dibawa pulang.

“Saya sudah sering ke kawasan hutan ini untuk berburu burung, namun baru sekarang melihat dan menemukan batu aneh tersebut, bahkan sebelumnya beberapa kali saya menemukan sejumlah kayu yang sudah mengeras seperti fosil tulang di sekitar KPH Silarang,” katanya.

Mamang alias Bejo mengatakan, sekitar lokasi penemuan prasasti batu tersebut jarang dirambah oleh manusia, karena suasananya sepi dan harus ditempuh dengan jalan kaki menerobos semak belukar untuk sampai di lokasi. “Kayu menyerupai fosil tulang sering saya ambil untuk dipajang di ruang depan, namun kalau menemukan prasasti batu baru sekali ini, sehingga langsung saya bawa pulang dan saya simpan di rumah sampai sekarang,” katanya.

Menurut dia, beberapa petugas dari dinas pariwisata setempat sempat melihat dan meneliti prasasti batu tersebut namun tidak membawanya, sehingga sampai sekarang batu tua berusia 100 tahun lebih itu masih terpajang di rumahnya. (ant/JT-1)

Dalam Pekalongan,Pemalang | Tags ,, ,

Tinggalkan Pesan

Komentar Terakhir

CLOSE